Selasa, 28 September 2010

Menjadi Guru Impian, Bagaimana?

Menjadi Guru Matematika Impian, Bagaimana?
Sebut saja namanya Pak Endar, beliau adalah guru matematika saya sewaktu SMA dulu. Beliau ini adalah guru yang sangat disegani, ditakuti, sekaligus disukai murid-muridnya. Terasa ganjil memang, ada guru yang ditakuti sekaligus disukai. Tapi, saya tidak mengada-ada. Faktanya, dalam pemilihan guru favorit versi siswapun beliau meraih suara terbanyak, keluar sebagai pemenang.
Banyak cerita menarik tentang guru matematika SMA saya itu. Salah satu contohnya begini. Waktu itu, seingat saya, beliau mengajar tentang geometri dimensi tiga. Seperti biasa beliau mengajari kami dengan gaya khasnya. Penjelasannya, bagi saya, begitu rinci dan dapat dimengerti. Cara penyampaian pelajarannya juga tidak monoton. Tidak melulu materi pelajaran. Seringkali diselipi nasihat-nasihat yang sangat mengena, tepat penyampaiannya. Walau beliau terkesan orang yang sangat serius, kelihatan galak, dan sedikit bicara, namun celetukan-celetukannya seringkali mengundang gelak tawa siswa-siswanya, padahal beliau sendiri tidak ikut tertawa, ya “datar” saja mukanya (istilah kami waktu itu, lempeng-lempeng saja).
Oh iya, kembali ke cerita menarik waktu itu. Setelah memberi contoh soal tentang geometri, dan memberi latihan ke kami. Beliaupun tak lupa memberi PR. Waktu itu, beliau cukup banyak memberi kami PR. Katanya begini, “Untuk PR, kerjakan latihan 2 dan latihan 3 semuanya. Besok dikumpulkan!” Kemudian, salah seorang teman saya waktu itu, sebut saja namanya Marni, bertanya begini. “Pak, PR-nya ditulis di kertas folio polos atau folio bergaris?” Pak Endar tak menjawab, tak menggubris pertanyaan Marni, karena sedang beres-beres (membereskan buku dan alat tulis yang baru saja dipakai) untuk segera pergi meninggalkan kelas. Marni mengulangi pertanyaannya, “Pak, PR-nya ditulis di kertas folio polos atau folio bergaris?” Lagi-lagi, Pak Endar tidak menghiraukannya. Maklum, teman saya ini terkenal cerewet dan sering bertanya. Marni tak putus asa, dan bertanya hal yang sama. Lagi-lagi, Pak Endar masih diam. Kemudian, sambil beliau berlalu meninggalkan kelas, Marni masih tetap bertanya lagi hal yang sama. Tepat di muka pintu, sambil pergi Pak Endar menjawab pertanyaan Marni, “PR-nya ditulis di… kulit bedug!” Sontak, kami sekelas tertawa terbahak-bahak. Hahahahahaha…. Eits, cerita belum selesai.
Keesokan harinya, PR pun dikumpulkan (tentunya tidak ditulis di kulit bedug, tapi di kertas folio bergaris atau polos). Seperti biasa juga, Pak Endar menjelaskan materi selanjutnya. Kali ini juga beliau memberi kami PR. Katanya begini, “Untuk PR, kerjakan sisa latihan 4 dan latihan 5 semuanya. Minggu depan dikumpulkan!” Setelah berkata begitu, Marni bertanya, “Pak PR-nya ditulis di kertas folio bergaris ya?” Seperti biasa juga, Pak Endar tak langsung menjawab. Pertanyaan ini pun diulangi Marni beberapa kali. Lagi-lagi Pak Endar, tak langsung menjawab. Ada teman saya yang lain, sambil becanda nyeletuk ke Marni. “PR-nya ditulis di kulit bedug!” Marni tak hirau dengan celetukan teman saya itu. Kemudian, sambil menunggu waktu selesai pelajaran, beliau sedikit memberi nasihat dengan sedikit obrolan ringan. Hingga waktu pelajaran pun hampir selesai. Beliaupun segera beres-beres dan akan berlalu meninggalkan kelas. Ketika hampir keluar kelas, Marni masih sempat bertanya hal yang sama. Tepat di muka pintu pula, sambil berlalu pergi, Pak Endar menjawab pertanyaan Marni, “Ditulis di… tripleks!” Hahahahahaaa…. Tawa pun meledak dengan kerasnya, dan untuk beberapa saat menggoncang ruangan kelas kami. Cerita tadi, hanya secuil kenangan, dari seorang guru yang saya idolakan. Masih banyak cerita-cerita lain yang tentunya tak kalah menariknya.
Nah, bagaimana menjadi sosok guru matematika yang diidolakan itu? Sekurang-kurangnya, guru idola itu memenuhi kriteria: (1) menguasai materi matematika yang akan diajarkan ke siswanya; (2) menguasai cara mengajarkan matematika ke siswanya; dan (3) mengajar dengan ikhlas. Lho…, kok cuma sedikit sih? Sabar sebentar. Penjelasannya begini.
Yang pertama. Guru matematika sepantasnya = selayaknya menguasai materi matematika yang akan diajarkan ke siswanya. Apa jadinya bila guru matematika tak menguasai materi yang akan diajarkannya? Harus diakui memang, kata “menguasai materi” itu juga relatif. Untuk itu, agar semakin menguasai materi matematikanya, guru juga sepertinya perlu belajar. Mau menambah pengetahuan dari mana saja. Mau meningkatkan diri. Tidak berpuas diri dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Tidak berbangga diri dengan lamanya pengalaman berkiprah di dunia “ajar-mengajar”. Sederhananya, mau memperbaiki diri. Jangan sampai ada celetukan begini, “Wah Pak Anu atau Bu Inu itu ngajarnya tiap tahun, begitu-begitu saja, catatannya sama, obrolannya sama, lawakannya sama, sampai titik komanya yang ditulis di catatan siswa juga sama.” Oh iya, menguasai materi saja juga sepertinya belum cukup. Karena katanya, banyak guru yang ngajarnya seperti ngobrol dengan papan tulis. Gurunya asyik ngobrol, siswanya apalagi.
Yang kedua. Guru matematika idealnya bisa menyampaikan materi matematika ke siswanya. Bisa menggiring siswanya untuk belajar dengan enak, santai, rileks, dan menyenangkan. Untuk itu, katanya, guru perlu menguasai dan mempraktikkan macam-macam pendekatan pembelajaran supaya materi yang disampaikannya efektif tersampaikan; menyadari bahwa siswa juga manusia yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda; memahami bagaimana siswa belajar matematika; dan menyadari bahwa matematika adalah juga bagian dari aktivitas manusia. Dan tentunya, masih banyak lagi yang lainnya. Silakan ditambahi!
Pendapat saya sebagai siswa. Saya mengidolakan guru matematika yang mampu menunjukkan kaitan matematika itu dengan kehidupan nyata. Bukan hanya aplikasi materi matematika secara langsung saja (misal penerapan materi: aritmetika (+, - , :, x, ) dalam perdagangan), tapi fenomena-fenomena hidup pun bisa dijelaskan dengan matematika secara sederhana.
Saya juga menyenangi guru matematika yang bisa menyelipkan nasihat-nasihat, cerita, humor, anekdot, bukan hanya materi matematika saja yang disampaikan. Bila hanya materi matematika saja, bisa bosan, hambar rasanya, tak segar pikiran ini dibuatnya. Matematika seperti terlepas dari kehidupan manusia. Matematika seperti bukan bagian aktivitas manusia. Karena saya menyenangi guru yang bisa seperti ini, waktu itu, saya sering membuat catatan pinggir di buku matematika saya, bisa berupa: cerita-cerita, nasihat, humor, kisah, kejadian di kelas, atau yang lainnya. Bila catatan saya itu dibaca, pikiran saya seperti menembus ruang dan waktu, menerawang, dan mengenang kejadian waktu itu.
Oh iya, saya juga suka guru matematika yang serius, tapi kreatif, sering menyelipkan pertanyaan matematika sebagai selingan dan atau pancingan. Selingan ini bisa disampaikan di awal pembelajaran, di tengah pembelajaran, atau di akhir pembelajaran. Contoh pertanyaan selingan itu seperti ini.
Seekor kodok, jatuh ke dalam lubang yang dalamnya 10 meter. Untuk bisa keluar dari lubang tersebut, tentu sang kodok berusaha memanjatnya. Dalam sehari yang bisa dilakukannya adalah: di waktu siang, sang kodok bisa naik 3 meter, tapi di malam hari karena dingin, licin, dan sambil menangkapi nyamuk untuk disantap dia terperosok lagi 2 meter. Begitu setiap harinya. Berapa hari sang kodok bisa keluar dari lubang tersebut?
Ketika pertanyaan ini disampaikan, waktu itu saya bukan siswa SD lagi, banyak teman saya dengan cepat (kurang dari satu menit) menjawabnya. Jawaban mereka waktu itu adalah **** hari. Saya pun ikut-ikutan menjawab **** hari. Tapi, anehnya guru saya seperti tak puas dengan jawaban kami. Setelah saya pikir pelan-pelan, saya baru sadar kenapa guru saya itu tak puas dengan jawaban teman-teman saya itu. Akhirnya, setelah beberapa saat, ada teman saya yang bisa menjawabnya dengan benar. Ayo…. apa jawabannya?
Yang ketiga. Ikhlas. Satu kata yang mudah diucapkan, namun sukar dilakukan. Sukar pula dilihat indikatornya. Kata orang, berbuat ikhlas untuk suatu aktivitas (ibadah) itu seperti aktivitas membuang kotoran diri sendiri. Nah, yang saya maksud ikhlas di tulisan ini adalah bahwa: aktivitas mengajar (pembelajaran) yang dilakukan guru itu perlu dilandasi dengan niat ibadah. Dengan niat seperti ini, katanya, mengajarpun akan terasa enjoy alias menyenangkan, dan siswa pun akan enak juga dibuatnya. Bila dilandasi niat seperti ini juga, katanya, menjadi guru (matematika) itu akan merupakan suatu pekerjaan yang membahagiakan, di dunia dan insya Allah di akhirat kelak. Betul?
Catatan:
Tulisan di atas, masih sangat mungkin untuk dilengkapi (maklum masih “melarat = miskin yang semiskin-miskinnya” pengalaman). Saya menulis ini untuk sementara hanya se”kenanya?”; hanya menurut “gosip-gosip” yang pernah saya dengar; hanya dari sudut pandang sempit saya saja; hanya menurut angan-angan saya saja yang tentunya masih banyak ngawurnya (makanya judulnya ada kata “Impian” segala); dan hanya-hanya yang lain. Jadi, bila tulisan ini tak lengkap dan mengandung kata-kata yang kurang berkenan, mohon maaf saya perlu katakan untuk ibu-bapak guru sekalian, khususnya guru matematika.

dari : http://nanimtksma.blogspot.com/2009/05/menjadi-guru-yang-menyenangkan.html 

Mendidik Dengan Ikhlas

Karakter Pertama Pendidik Sejati:
Mengikhlaskan Ilmu untuk Alloh Subhanahu wa ta’ala
        Sebuah perkara agung yang dilalaikan banyak kalangan pengajar dan pendidik, yaitu membangun dan menanamkan prinsip mengikhlaskan ilmu dan amal untuk Alloh. Ini merupakan perkara yang tidak dipahami banyak orang, karena jauhnya mereka dari manhaj Rabbani. Demi Alloh, berapa banyak ilmu yang bermanfaat dan amal-amalan yang mulia untuk umat, namun pemiliknya tidak mendapat bagian manfaat darinya sedikitpun dan pergi begitu saja bersama hembusan angina bagaikan debu beterbangan. Yang demikian itu disebabkan karena pemiliknya tidak mengikhlaskan ilmu dan amal mereka serta tidak menjadikannya di jalan Alloh. 
        Tujuan mereka bukan untuk memberikan manfaat kepada saudara-saudara mereka kaum muslimin dengan ilmu dan pengetahuan serta amal-amalan tersebut. Tujuan mereka hanya semata meraih kehormatan atau kedudukan dan sejenisnya, karena itu sangat layak bila amalan-amalan tersebut pergi begitu saja bagaikan debu yang beterbangan. Ya benar, ada kalanya mereka itu mendapatkan manfaat dengan ilmu dan pengetahuan mereka di dunia, berupa sanjungan, pujian, dan sejenisnya, tetapi diujung-ujungnya bermuara pada kesirnaan. Barangkali hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RodhiAllohu ‘anhu melukiskan makna tersebut:

Dari Abu Hurairah RodhiAllohu ‘anhu dia berkata, Nabi Shallallohu’alaihi wasallam bersabda:
“ … dan seorang laki-laki yang belajar dan mengajarkan ilmu serta membaca Al-Qur’an, lalu ia didatangkan dan Alloh mengingatkan nikmat-nikmatNya (kepadanya) dan dia pun mengenalnya. Alloh berfirman, ‘Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia berkata, ‘Saya belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an demi Engkau.’ Alloh berfirman,’ Kamu berdusta, akan tetapi kamu belajar ilmu supaya dikatakan alim; kamu membaca Al-Qur’an supaya dikatakan qori’, dan itu telah dikatakan. ‘Kemudian diperintahkan agar ia diseret diatas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka…” (Hadits Riwayat Muslim dalam kitab Imarah, An-Nasa’i dalam Al-Jihad, Ahmad dalam Baqi’ Musnad Muktsirin , dan At-Tirmidzi dalam Az-Zuhud)
        Karena itu, semestinya bagi para pendidik dan pengajar agar menanamkan sifat ikhlas dalam ilmu dan amal untuk Alloh pada diri anak didiknya, juga sifat mengharap pahala dan ganjaran dari Alloh. Kemudian, jika setelah itu ia memperoleh sanjungan dan pujian dari manusia, itu adlah anugrah dan nikmat dari Alloh, dan bagi Alloh-lah segala pujian.

        Ibnu Rajab Rahimahulloh berkata: “ Adapun jika dia melakukan sebuah amalan murni untuk Alloh, kemudian Alloh melemparkan pujian baik baginya di hati orang-orang Mukmin dengan hal itu, lalu dia merasa senang dengan anugrah dan Rahmat Alloh serta merasa gembira dengannya, maka hal itu tidak mengapa baginya. Pada makna inilah hadits Abu Dzar datang; dari Nabi shallallohu’alaihi wasallam bahwa beliau ditanya tentang laki-laki melakukan sebuah amalan ikhlas untuk Alloh berupa kebaikan, yang lantaran itu ia dipuji manusia, beliau bersabda: ‘Itu adalah berita gembira orang beriman yang disegerakan’.” (Hadits Riwayat Muslim, juga Ahmad dalam Musnad Al-Anshar dan Ibnu Majah dalam Az-Zuhud)

        Poros dari itu semua terletak pada niat, dan niat tempatnya adalah di dada, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Alloh:
“ Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Alloh mengetahuinya’.” (Terjemah Quran Surat Ali Imran: 29)
Maka bagi siapa saja yang niatnya murni untuk Alloh, hendaklah berbahagia dengan pengabulan amalnya dan ganjaran pahala dari Alloh.

        Dari Umar bin Al-Khattab RadhiAllohu ‘anhu, saya pernah mendengar Rasululloh Shallallohu’alaihi wasallam bersabda:
“ Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia yang hendak dicapainya atau lantaran seorang wanita untuk dinikahinya, maka hijrahnya pada apa yang dia hijrah kepadanya.” ( Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan:
1. Merupakan suatu kewajiban bagi seorang pendidik untuk menanamkan hakikat ikhlas pada diri anak didiknya.
2. Seorang pendidik harus menyertakan hakikat tersebut semenjak awal dan terus-menerus mengingatkannya.



Diketik ulang dari buku: “Begini Seharusnya Menjadi Guru (Panduan Lengkap Pengajaran Cara Rasululloh Shallallohu’alaihi wasallam)” karya Fu’ad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, edisi bahasa Indonesia dengan penerjemah Jamaluddin, .
dari : http://abna-aulad.blogspot.com/2010/02/dan-beramal-itulah-pendidik-sejati-pada.htm 

Download Open Office Portable

Program Protable

Tutorial OpenOffice 3.0

Bagi pengguna baru, yang belum pernah menggunakan OpenOffice pasti akan mengalami kesulitan dalam pengoperasiannya, untuk itu kami menyediakan referensi bagi anda yang ingin menggunakan aplikasi ini, berupa tutorial penggunaan OpenOffice berbahasa Indonesia. Manual (petunjuk penggunaan) OpenOffice ini dibuat oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan bebas untuk di-download dan disebarluaskan .
Berikut ini adalah daftar tutorial dalam format e-book (PDF) yang tersedia :

Cover Buku dan Daftar Isi :
Cover Buku [Download]
Daftar Isi [Download]

Tutorial OpenOffice Writer (padanan Microsoft Office Word) :
Bab 1. OpenOffice Writer [Download]
Bab 2. OpenOffice Writer [Download]
Bab 3. OpenOffice Writer [Download]
Bab 4. OpenOffice Writer [Download]

Tutorial OpenOffice Calc (padanan Microsoft Office Excel) :
Bab 5. OpenOffice Calc [Download]
Bab 6. OpenOffice Calc [Download]
Bab 7. OpenOffice Calc [Download]
Bab 8. OpenOffice Calc [Download]

Tutorial OpenOffice Impress (padanan Microsoft Office PowerPoint) :
Bab 9. OpenOffice Impress [Download]
Bab 10. OpenOffice Impress [Download]
Bab 11. OpenOffice Impress [Download]
Bab 12. OpenOffice Impress [Download]

Tutorial OpenOffice Base (padanan Microsoft Office Access) :
Bab 13. OpenOffice Base [Download]
Bab 14. OpenOffice Base [Download]
Bab 15. OpenOffice Base [Download]
Bab 16. OpenOffice Base [Download]
Bab 17. OpenOffice Base [Download]

Materi Tambahan :
Langkah Instalasi OpenOffice.org [Download]
Software OpenOffice 3.0 (portable) [Klik di sini]

Untuk mendownload caranya, klik kanan pada tulisan Download pada masing-masing materi, lalu pilih Menu Save Target As (di Internet Explorer) atau Save Link As (di Mozilla Firefox). Untuk membaca e-book yang ada Anda memerlukan aplikasi PDF Reader semacam Adobe Reader atau aplikasi sejenis.  Selamat Belajar!
Semoga bermanfaat
:)
Sumber : http://nuritaputranti.wordpress.com/2010/05/17/tutorial-openoffice-3-0/

Mendidik Anak Sejak Di Kandungan

Kapankah anda mulai mendidik anak-anak kita ? Waktu dia baru lahir, waktu dia sudah bisa berbicara, atau waktu dia sudah mulai sekolah ? Kalau salah satu pilihan adalah jawaban Anda, maka Anda telah melewatkan waktu yang lama.
Menurut penelitian ilmiah terbaru, anak-anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan. Waktu di kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang. Emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu, makanan yang dikonsumsi Ibu akan sangat mempengaruhi perkembangan otak anak di dalam kandungan.
Ibu hamil yang stress biasanya akan melahirkan anak-anak yang bermasalah. Demikian juga asupan gizi ibu hamil yang tidak memadai akan berpengaruh terhadap perkembangan otak janin.
Tentunya kita semua sering mendengar tentang bagaimana memperdengarkan suara/musik tertentu (musik klasik) akan berpengaruh terhadap kecerdasan anak sejak dalam kandungan.  Hal ini dapat dimengerti karena musik dengan irama tertentu dapat menstimulasi otak anak. (Tahukah Anda bahwa indra pendengaran pada janin sudah mulai berkembang sejak usia kehamilan sekitar 5 bulan).
Dalam agama Islam, bahkan mendidik anak dimulai sejak Anda memilih pasangan hidup Anda. Bagaimana bisa? Ya, karena memilih pasangan hidup berarti Anda memilih mau seperti apa anak Anda, bagaimana Ayah/Ibu yang akan mendidiknya, atau bahkan kemungkinan sifat atau kepandaian seperti apa yang akan dimiliki anak Anda.
Nah, kalau Anda tidak mau terlambat, mulailah mendidik anak Anda sejak sebelum dia lahir. Berikut beberapa tips mendidik anak sejak dia belum dilahirkan.
  1. Harapan orang tua terhadap kelahiran anak sangatlah berpengaruh terhadap kejiwaan anak Anda. Anak yang diharapkan orang tuanya akan merasa nyaman dengan dirinya, sedangkan mereka yang tidak diharapkan orang tuanya, apalagi jika ibunya pernah mencoba menggugurkannya, akan merasa ditolak dan tidak merasa nyaman dengan dirinya. Jadi jika Anda hamil karena KB Anda gagal, maka ubahlah perasaan Anda, harapkan anak yang ada di kandungan  Anda.  Janganlah merasa terpaksa menerima kehadirannya.
  2. Emosi ibu akan sangat berpengaruh terhadap emosi anak yang akan lahir nantinya. Para calon ibu,  jika Anda ingin melahirkan anak yang pandai, kuat, mandiri, janganlah gampang mengeluh atau manja terhadap pasangan atau keluarga Anda.  Anda tentu tidak ingin anak Anda gampang putus asa dan gampang mengeluh, kan ? Selalu berpikir positif dan berperanglah terhadap emosi Anda sendiri. Ibu yang kuat akan melahirkan anak-anak yang kuat.
  3. Bagi para calon Bapak dan keluarga ibu lainnya, jagalah emosi para calon ibu. Pertengkaran dan  kekecewaan akan berpengaruh terhadap emosi calon anak Anda.
  4. Sejak kehamilan bulan ke-5 mulailah memperdengarkan musik-musik klasik seperti Mozart.  Janganlah memperdengarkan musik-musik/suara-suara keras seperti musik rock, hal tersebut akan menggelisahkan calon bayi Anda.
  5. Stimulasi kandungan anda dengan elusan dan tepukan halus. JIka si janin mulai menendang perut Anda, balaslah dengan tepukan halus di tempat dia menendang. Hal ini akan mengajarkan kepadanya bahwa setiap tindakannya akan memberikan respon dari ibunya.
  6. Ajaklah bicara calon bayi Anda sejak awal, tidak ada kata  terlalu cepat. Jika indra pendengarannya sudah mulai berkembang, berarti suara Anda pun sudah bisa dia dengar.
  7. Perbanyak ibadah dan mengaji, alunan suara ibu yang sedang mengaji akan menstimulasi dan menenangkan calon bayi Anda.
  8. Konsumsilah makanan yang halal, bergizi dan berprotein tinggi. Hindari makanan haram, makanan junk food, makanan instan, kopi, dan merokok (baik aktif/pasif).
  9. Bagi Anda yang belum berkeluarga, pertimbangkan dengan cermat calon pasangan hidup Anda, seperti apa dia dibesarkan dan dididik, karena biasanya akan seperti itu pula dia akan membesarkan calon Anak Anda. Cara termudah adalah dengan mengamati saudara-saudaranya (calon ipar Anda), bagaimana mereka sekarang adalah sedikit banyak karena didikan orang tuanya.
Sumber : http://wiwinjournal.com/wiwinjournal/di-kandungan/tips-mendidik-anak-sejak-di-kandungan/

Mengajar Dengan Ikhlas

Sarana dan prasarana sekolah bukanlah hal utama untuk membentuk murid yang cerdas dan pintar. Peran guru  menjadi kunci utama dalam pendidikan di sekolah. Untuk membentuk murid yang cerdas dan berbudi pekerti, tentunya tidak hanya membutuhkan guru yang pintar saja, tetapi juga memiliki keikhlasan dan mencintai pekerjaannya sebagai pendidik.

Cukup banyakkah guru di Indonesia yang seperti itu? MASIH ingat kisah Andrea Hirata yang dituangkannya dalam buku Laskar Pelangi? Bagaimana  seorang guru bernama Ibu Muslimah dengan segala keterbatasan sarana dan prasana di sekolah, mampu mendidik 10 muridnya walaupun menempati ruangan sekolah yang serba kekurangan.

Perannya sebagai pendidik dijalankannya dengan penuh keikhlasan dan sepenuh hati. Kisah ini pula yang diungkapkan Kepala Badan Perpustakaan Kaltim Syafruddin Pernyata, dalam Seminar Pendidikan yang digelar Majelis Pemuda Indonesia Komite Nasional Pemuda Indonesia, di Kantor Gubernur, Sabtu (5/6).

Mutiara ada di mana mana, tapi yang bisa mengasah dan membuat mutiara yang cantik adalah guru mereka. Kalau mau pendidikan itu bagus, maka perbaiki gurunya. Kesejahteraan guru memang perlu, tapi yang paling penting dari itu semua adalah keihklasan hati sebagai pendidik, papar Syafruddin.

Mantan Kepala Disdik Kaltim ini pun menuturkan agar guru jangan hanya mengejar kesempatan sertifikasi belaka tanpa ada perbaikan dalam pengajaran di dalam kelas.

"Jadi mengajarlah dengan hati. Jangan hanya berpikir sering sering ikut seminar supaya dapat sertifikat dan mudah sertifikasi," ujarnya. (*)

Editor : widodo
Source : Tribun Kaltim